KDMP Rengel: Percontohan Koperasi Desa Modern Berbasis Kolaborasi dan Digitalisasi

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Rengel di Tuban, Jawa Timur, telah sukses menjadi percontohan koperasi desa modern yang berbasis kolaborasi dan digitalisasi ekonomi kerakyatan.

Dibentuk pada Mei 2024 melalui Musyawarah Desa (Musdes) sebagai tindak lanjut atas instruksi pemerintah, KDMP Rengel merupakan transformasi dari Koperasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (KLMH). Koperasi ini tumbuh pesat, kini beranggotakan lebih dari 500 anggota aktif dari berbagai profesi, termasuk petani, pedagang, dan pegawai desa.

Sektor pertanian menjadi tulang punggung utama KDMP, didukung potensi 452 petani yang mengelola 97 hektare lahan sawah dan 200 hektare lahan tegalan. Melalui sinergi erat dengan BUMDes Rengel, koperasi ini mengembangkan unit usaha yang berfokus pada kebutuhan petani, seperti pengadaan bibit jagung dan pupuk organik. Produk unggulan seperti beras, tempe, dan tahu kini disuplai ke anggota serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keberhasilan ini tercermin dari omzet unit usaha. Unit pengadaan bibit jagung mampu mencatatkan omzet Rp 85–95 juta per musim. Sementara itu, unit Mitra Toserba dan pasokan untuk MBG masing-masing berkontribusi sekitar Rp 5–6 juta dan Rp 6–7 juta per hari.

Untuk memperluas pasar, KDMP Rengel juga menjalin kemitraan strategis dengan lembaga luar Tuban, seperti Koperasi Berkah Telur di Blitar dan Lembaga Perekonomian Sunan Drajat.

Sejalan dengan visinya sebagai koperasi modern, KDMP Rengel aktif melibatkan generasi muda sebagai motor penggerak. Koperasi ini tengah membangun sistem digital terintegrasi yang mencakup akuntansi, keuangan, data keanggotaan, dan pemanfaatan big data untuk mewujudkan transparansi. Pemanfaatan teknologi ini didukung oleh talenta IT lokal yang didorong untuk berkontribusi pasca-mengikuti pelatihan dari Pemkab Tuban.

Ke depan, KDMP berharap dapat terus menambah jumlah anggota dari potensi tiga ribu lebih kepala keluarga di Desa Rengel untuk memperkuat modal. Koperasi juga berharap adanya kemudahan akses permodalan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal, bukan semata berdasarkan pagu program pemerintah.

Penulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *