Desa Wisata Kasongan di Padukuhan Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, terus mengukuhkan statusnya sebagai sentra industri kerajinan gerabah (tembikar) ikonik di Yogyakarta. Lebih dari sekadar pusat produksi, Kasongan kini telah bertransformasi secara masif menjadi destinasi wisata edukatif terpadu yang memadukan sejarah unik, budaya, dan peran sosial-ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Dengan didukung atraksi baru seperti MuseumKu Gerabah dan upaya perlindungan identitas produk oleh pemerintah, Kasongan tidak hanya melayani pasar lokal tetapi juga telah menembus pasar ekspor.
Secara ekonomi, Kasongan telah berkembang menjadi salah satu sentra industri kerajinan terbesar dan paling vital di Kabupaten Bantul. Produk-produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi permintaan pasar domestik yang tinggi akan dekorasi rumah dan peralatan unik. Kerajinan gerabah Kasongan juga telah berhasil menembus pasar ekspor, membawa nama Bantul dan keunikan budaya Yogyakarta ke kancah internasional.
Melihat signifikansi ekonomi dan identitas budaya ini, pemerintah daerah kini tengah berupaya memperkuat posisi Kasongan. Langkah strategis yang diambil adalah melalui perlindungan indikasi geografis. Upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk khas Kasongan tetap terjaga kualitas otentik dan identitas asalnya, melindunginya dari persaingan tidak sehat atau peniruan di pasar global.
Transformasi paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah evolusi Kasongan menjadi desa wisata edukatif (eduwisata) yang terintegrasi. Pengunjung yang datang tidak lagi hanya berbelanja produk jadi dalam galeri-galeri yang berderet di sepanjang jalan desa. Mereka kini disuguhkan pengalaman budaya yang utuh dan partisipatif.
Hampir di sepanjang jalan utama desa, wisatawan dapat melihat langsung proses kompleks pembuatan gerabah. Banyak rumah warga yang kini berfungsi ganda sebagai galeri pamer (showroom) di bagian depan, dan bengkel kerja (workshop) di bagian belakang. Pengunjung dapat menyaksikan para perajin mengolah tanah liat, membentuknya di atas meja putar, mengukir detail, menjemur, hingga proses pembakaran menggunakan tungku-tungku tradisional berukuran besar.
Fenomena ini diperkuat dengan hadirnya destinasi baru yang menarik di kawasan tersebut, yakni MuseumKu Gerabah. Museum ini secara khusus dirancang sebagai tempat wisata edukasi modern. Ia memadukan galeri seni tembikar yang menampilkan karya-karya artistik dengan kelas praktik, di mana wisatawan dapat mencoba langsung membuat gerabah mereka sendiri dibimbing oleh perajin lokal. Kehadiran museum ini menjadi daya tarik baru yang signifikan, terutama bagi wisatawan keluarga dan rombongan studi yang ingin merasakan pengalaman budaya secara langsung.
Sebagai sentra industri, warga desa Kasongan memproduksi beragam jenis gerabah yang menunjukkan fleksibilitas adaptasi pasar sekaligus penjagaan tradisi. Produk fungsional seperti kendi (wadah air), tungku masak tradisional, dan pot bunga dalam berbagai ukuran tetap diproduksi. Namun, pasar terbesar kini juga diisi oleh produk hiasan rumah bernilai seni tinggi dan patung-patung artistik dengan beragam ukuran.
Karya-karya ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari gerabah daerah lain. Beberapa motif khas yang menjadi ikon Kasongan antara lain bentuk kuda, gajah, dan ayam. Selain itu, motif-motif alam yang terinspirasi dari flora dan fauna lokal juga dominan, mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menerjemahkan lingkungan mereka ke dalam karya seni tanah liat.
Keunikan Kasongan memang tidak terbatas pada produk keramiknya, melainkan juga pada sejarah dan budaya yang melingkupinya. Asal-usul nama Kasongan sendiri sering dikaitkan dengan istilah “kundi” atau “gundi” dalam bahasa Jawa. Istilah ini merujuk pada wadah-wadah yang terbuat dari tanah liat, seperti gendi, kendi, atau kuali, yang menjadi identitas karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pembuat benda-benda tersebut.
Namun, di balik sejarah etimologis itu, tersimpan sebuah legenda lokal yang dipercaya sebagai cikal bakal tradisi pembuatan gerabah di wilayah ini. Dalam sejarah tutur yang berkembang di masyarakat, dikisahkan bahwa suatu ketika seekor kuda milik seorang penyelidik Belanda (pada era kolonial) mati mendadak di area persawahan milik salah satu warga.
Peristiwa ini menimbulkan ketakutan yang luar biasa di kalangan warga. Karena takut akan sanksi berat atau hukuman dari pihak kolonial, warga pemilik sawah tersebut akhirnya memilih untuk melepas hak atas tanah pertanian mereka. Akibatnya, banyak lahan persawahan di area tersebut menjadi terbengkalai dan tidak terurus.
Dalam kondisi tersebut, warga yang kehilangan lahan pertanian kemudian beralih profesi. Mereka mulai memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di sekitar lahan terbengkalai itu, yakni tanah liat berkualitas baik. Dari situlah, menurut legenda, tradisi pembuatan gerabah di Kasongan dimulai, diwariskan turun-temurun hingga kini menjadi denyut nadi utama kehidupan masyarakat Desa Bangunjiwo.
Bagi wisatawan yang tertarik mengunjungi pusat industri gerabah ini, lokasinya sangat mudah diakses. Desa Kasongan terletak cukup dekat dengan pusat Kota Yogyakarta, hanya berjarak sekitar 7 hingga 9 kilometer.
Waktu tempuh dari pusat kota, seperti kawasan Malioboro atau Kraton, diperkirakan hanya sekitar 15 hingga 20 menit, tergantung pada kondisi lalu lintas dan moda transportasi yang digunakan. Akses termudah adalah melalui Jalan Bantul lurus ke selatan. Alternatif lain adalah melalui rute Ring Road Selatan (Jalan Lingkar Selatan), mengambil arah menuju persimpangan Dongkelan, dan dari sana mengikuti petunjuk arah yang sudah jelas menuju Desa Wisata Kasongan.



